Pengejar Layang-layang
Novel May 15th, 2008
Judul: The Kite Runner
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Pangestuningsih
Penerbit: Qanita
Tahun: 2006
Hal: 618
Seumur hidupnya Hasan, remaja tanggung Afghanistan, berusaha mendapatkan hati Baba-nya yang dingin terhadapnya. Usaha ini yang akan mengantarkan Hasan kepada luka yang ditanggungnya seumur hidup. Luka pengkhianatan yang dia torehkan pada Ali, Hazara-nya, pelayan sekaligus teman terbaiknya.
Hasan dan Ali melewatkan waktu bersama-sama setiap saat di rumah Baba yang kaya raya. Ali adalah anak pelayan di rumah itu. Ia begitu kuat, senantiasa melindungi Hasan. Begitu setia, selalu membela anak majikannya itu. Ali juga pendengar yang baik, selalu terkesima dengan cerita-cerita karangan Hasan. Sebuah persahabatan yang tanpa mereka sadari dipandang salah oleh orang luar sebab tak pantas seorang anak majikan berteman dengan seorang pelayan.
Di sebuah turnamen layang-layang luka itu bermula. Hasan yang ingin sekali saja sang Baba bangga kepada dirinya, bertekad memenangkan turnamen ini. Hasan yakin akan menang sebab ia memiliki Ali sang Kite Runner, si pengejar layang-layang terkahir yang tak pernah gagal. Trofi bergengsi yang akan dia hadiahkan untuk Baba supaya ayahnya itu tidak berpaling lagi darinya, tidak lebih membanggakan Ali dibandingkan dirinya.
Ketika Ali mengejar layang-layang, yang kepada Hasan dikatakannya, for you a thousand times, petaka itu bermula. Ali dicegat anak-anak yang tidak suka ada pelayan yang dekat dengan majikannya. Ali diperkosa. Dan Hasan menyaksikannya dari kejauhan. Tak sanggup membela.
Hubungan mereka pun berubah. Dingin dan berjarak. Semakin keras Hasan mencoba melupakan rasa bersalahnya, semakin ia ketakutan dengan keberadaan Ali yang bisa saja suatu saat mengadu pada Baba. Maka ia pun memfitnah Ali telah mencuri uang. Ali dan ayahnya terpaksa pergi dari rumah Baba.
Perang pecah. Hasan dan Baba meninggalkan Afghanistan menuju Amerika. Di sana kehidupan sulit dimulai, tapi Hasan berhasil lulus kuliah, menjadi pengarang, dan mendapatkan seorang isteri. Kehidupan yang tampak damai sampai sebuah surat dari Rahim Khan, sahabat Baba yang selalu menyemangati dirinya untuk menjadi penulis, memaksanya pulang ke Afghan untuk menyelamatkan seorang anak yang sebatang kara. Anak itu anak Ali.
Rahim Khan menohok jantung Hasan dengan mengatakan, inilah saatnya Hasan menebus kesalahan masa kecilnya. Hasan pun kembali. Ke kampung halamannya. Ke luka yang terus membayanginya. Dan ke masa lalunya yang terkuak, sebab Ali ternyata adalah saudara tirinya.
Khaled Hosseini menuturkan kisah mengharukan ini dengan indah. Kepedihan seorang remaja yang kehilangan kasih sayang ayahnya, di tengah budaya Afghan yang patriarkal. Persahabatan yang kuat tapi tidak “legal” di mata masyarakat diceritakan dengan baik. Sangat menyentuh.
Tapi, menurut saya, kembalinya Hasan ke Afghan adalah antiklimaks. Saya tidak merasakan greget seperti awal novel, terutama bagian bahwa Sohrab, anak Ali, di”pelihara” oleh Assef, orang yang dulu memperkosa Ali. So predictable. Demikian juga bagian kehidupan Hasan dan Baba di Amerika, cukup membosankan. Bagian terbaik adalah bagian awal novel sampai saat mereka harus mengungsi ke Amerika.





